Ketika Bicara Cinta

Ketika Bicara Cinta

Kemarin siang, aku chating di facebook dengan seorang majikan warga negara Malaysia. Dia bercerita tentang beberapa asisten rumah tangga yang bekerja dengannya. cerita tentang asisten pertamanya, sungguh menyedihkan. Dia seorang perempuan yang sudah menikah. Anaknya ditinggal bersama dengan suaminya.

Awal kedatangannya ke Malaysia, ia bertekad untuk senantiasa mengirimkan uangnya setiap dua bulan sekali. Sebetulnya, majikan sudah melarang ia berbuat demikian. Tapi demi sang anak yang ditinggalkan perempuan tersebut tidak mengindahkan larangan majikannya. Maka sejak awal kedatangan, hinga menjelang akhir perempuan itu pulang ke Indonesia, ia tak memiliki tabungan.

Masih menurut sang majikan, awalnya semua berjalan lancar. Uang yang dikirim tiap bulan ke Indonesia dipergunakan suaminya dengan baik. Tapi, rupanya sang suami bukanlah suami yang amanah. Di saat istrinya membanting tulang dua keratnya demi membantu memperkukuh keadaan ekonomi keluarganya, rupanya sang suami justru mengambil kesempatan. Di saat ketiadaan istrinya, ia justru berselingkuh dengan wanita lain. Sementara, anaknya ia tinggalkan bersama dengan orang tua sang lelaki. Dengan harapan, istrinya masih mengirimkan uang untuknya. Masya Allah… Sungguh miris.

Sementara sang istri di perantauan tidak mengetahui hakikat kejadian yang sebenarnya. Ia terus dan terus saja mengirimkan uangnya secara rutin. Padahal, nyata-nyatanya sebagian uang yang dikirmkan ke kampung hanya untuk foya-foya suaminya. Hingga pada akhirnya, sepandai-pandai tupai melompat akhirnya terjatuh juga. Perbuatan suami diketahui juga oleh istrinya yang merantau di Malaysia.

Sayangnya, sang istri di Malaysia sudah tidak mempunyai apa-apa. Uangnya sudah habis dikirmkan tiap dua bulan sekali demi menyara anggota keluarga yang dicintanya. Maka ketika ia pulang ke kampung halaman hanya membawa uang sekedarnya saja. Yang ia dapatkan dari gaji beberapa bulan sebelum ia pulang.

Demi cinta kepada keluarga, suami juga anaknya sang istri rela meninggalkan kampung halaman. Bukan sebentar waktu yang ditempuh, dua tahun. Selama itu juga ia memendam rindu dan cinta kepada keluarganya. Sayangnya, sang suami curang. Bukan balasan cinta dan kasih sayang yang sang istri dapatkan tapi justru penipuan. Ah, sungguh cinta itu sulit sekali memaknainya.

**

Teringat sebuah buku motivasi, “Membina Rasa Cinta” dalam lembar-lembar terakhir buku itu tertulis, maka, apabila anda mulai didekati cinta, mulai mengakrabi cinta, merasakan nikmatnya bercinta, awasilah karena ia datang bersama sendu, pilu, rindu, sayang dan ada kalanya air mata dan kemurungan. Cinta adalah simbol ledakan emosi manusia untuk dikasihi dan mengasihi. Untuk dikasihi dia melakukan apa saja dan untuk mengasihi dia sanggup mengorbankan apa saja. Cinta menjadikan manusia separuh ‘gila’ dan apabila cinta bermasalah dia akan benar-benar menggilakan.

Cinta, bukan untuk ditangisi. Tapi untuk dinikmati. Maka ketika cinta selalu menghadiahkan air mata, tinggalkanlah ia.

Nama : Anazkia
Pekerjaan : BMI (Buruh Migrant Indonesia)
Blog : Anazkia.blogspot.com
Url Postingan : http://anazkia.multiply.com/journal/item/464

About The Author

Related posts

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *